Tuesday, November 27, 2018

Jalan Hidup


Saya selalu tekankan ke dua anak cowok saya untuk mencari dan memperhatikan minat dan bakat mereka. Minat menentukan apa yang mereka suka lakukan. Bakat menentukan ketrampilan yang mereka perlu asah. Minat dan bakat yang bersatu bakal menentukan jalan hidup mereka.

Dari kecil saya ingin jadi pengajar dan ilmuwan di perguruan tinggi dan dari kecil saya tekun belajar untuk merealisasikan mimpi itu. Saat itu saya berpikir bekerja menjadi profesor sangat asyik karena saya mendapatkan uang hanya dengan berpikir dan menulis. Pekerjaan profesor ini yang menentukan jalan hidup saya sebagai orang yang terus belajar, menulis, dan mencari ide baru untuk dituangkan di karya tulis ilmiah. Pekerjaan ini yang saya sukai dan bisa saya lakukan seumur hidup. Itulah jalan hidup: sesuatu yang tiap kita lakukan dengan senang dan seumur hidup.

Orang yang setia kepada jalan hidup yang sudah dia bina tidak dengan mudah mengubah pekerjaan hanya karena gaji tinggi saja. Saya makanya respek sekali dengan seniman yang teguh kepada seni yang dia kecimpungi, tukang yang selalu belajar untuk mengembangkan ketrampilan mereka, koki masak yang tekun menjaga kualitas makanannya. Orang-orang inilah buat saya yang telah menemukan jalan hidup mereka.

Keteguhan melalui jalan hidup yang sudah kita pilih buat saya nilainya lebih tinggi dari hanya menjadi kaya. Jalan hidup yang kita pegang teguh ini, jika kita serius, akan memberikan filsafat hidup tentang bagaimana kita bersikap dan membina diri dan jiwa kita untuk bekerja lebih baik. Satu contoh buku yang menggambarkan filsafat hidup dari jalan hidup yang dipilih adalah buku The Book of Five Rings karya Miyamoto Musashi.

Thursday, November 22, 2018

Nirmath


Saya tidak suka mengomentari pekerjaan orang lain, apalagi terlibat polemik berkaitan dengan kampanye politik pemilu presiden tanah air tahun 2019. Tapi saya gregetan melihat buzzword Revolusi Industri 4.0 dituturkan berulang kali tanpa pendalaman berarti. Celotehan ini terjadi di kedua belah pihak, walaupun terus terang terlihat pihak mana yang mempunyai orang-orang yang melek pendidikan tinggi.

Keterbelakangan teknologi di tanah air secara fundamental karena lemahnya kemampuan matematika rata-rata. Tenaga kerja lulusan universitas kerap tidak mempunyai kerangka analisa matematis kuat (dan otomatis fisika kuat) yang dibutuhkan untuk mendesain produk baru bermuatan teknologi. Solusi penguatan sekolah vokasi hanya solusi sementara untuk menurunkan angka pengangguran. Lulusan sekolah vokasi setingkat SMK maupun program D3 universitas tidak bisa diharapkan menelorkan produk sarat teknologi karena banyak teknologi yang tersedia di pasar bertumpu pada prinsip-prinsip fisika dan matematika yang tinggi tingkatannya.

Pemerintah akan sekali lagi tidak menggunakan kesempatan keterbelakangan teknologi sebagai motivasi meningkatkan kemampuan sendiri. Pada akhirnya ini akan memperparah ketertinggalan teknologi. Dan perbaikan mutu sekolah vokasi hanya akan terbatas ke menurunkan angka pengangguran belaka.

Wednesday, November 21, 2018

Definisi Kualitas


Hari ini saya diingatkan bahwa diskusi terbaik tentang Kualitas ada di buku Zen and the Art of Motorcycle Maintenance yang ditulis Robert M. Pirsig. Kemarin di kuliah proyek skripsi saya berbicara tentang Kualitas. Ada satu mahasiswa yang teringat oleh buku itu setelah mendengar kuliah saya. Dalam percakapan kita hari ini dia bertanya apa saya tahu buku itu. Tanpa banyak bicara saya ambil buku itu dari rak buku di kantor.

Kualitas itu pada dasarnya Kepuasan Pemakai. Dalam bersepeda motor, pengendara akan merasakan dengan cepat kualitas sepeda motornya karena dia terekspos dengan suara bahkan bau motor. Dia juga akan merasakan tiap getaran yang dihasilkan oleh motor. Dia merasakan hembusan angin, bau rumput, dan tiap benjolan jalan. Mengendarai sepeda motor membuat kita sadar apa itu Kualitas.

Buku yang ditulis Pirsig juga mengupas arti Kualitas dari sudut pandang filsafat. Bahwa sifat-sifat Kualitas tidak pernah atau jarang didiskusikan di universitas. Kita lebih memperhatikan sifat Benar atau Salah dalam menilai satu masalah khusus dengan mengabaikan hubungannya dengan aspek lain.

Kualitas kerap jadinya dihubungkan dengan atribut lain seperti Harga atau Pendapat Umum. Apalagi sekarang di jaman media sosial dimana orang-orang yang berpikiran lemah akan mudah digiring seperti kambing untuk meng-iya-kan apapun yang menjadi trending topic di medsos.

Tuesday, November 20, 2018

Mencari Elok


Dari semua keindahan yang bisa kita nikmati: kecantikan perempuan, keindahan alam, kesempurnaan alam semesta, cuma ada satu keindahan kekal, yaitu keindahan ilmu tentang alam semesta. Ilmu alam tentang alam semesta berupa hukum-hukum fisika yang termuat dalam beberapa saja persamaan matematika. Persamaan-persamaan inilah yang terindah. Bergelut dengan merekalah keseharian saya selalu terasa indah.

Jika pengalaman saya dijabarkan ke berbagai ilmu yang ada di sekeliling kita, cukup saya bilang hidup yang mengejar ilmu, hidup yang diabdikan untuk ilmu adalah hidup terindah. 

Saturday, November 17, 2018

Militansi Mencari


Semua negara maju mempunyai ekonomi yang berbasis teknologi. Untuk mencapai tingkat ekonomi ini setiap negara maju tadi mempunyai ratusan tahun sejarah mengembangkan sains (ilmu pengetahuan) dan teknologi. Canada, tempat saya tinggal, contohnya mempunyai seabad riwayat sains dan teknologi. Contohnya, Ernest Rutherford yang mengerjakan riset di McGill University di awal 1900an dan kegiatan R&D artificial intelligence di University of Toronto.

Fakta butuhnya basis iptek untuk mempunyai teknologi2 yang akhirnya membuat negara kaya tidak usah diragukan. Kalau tidak percaya, bisa saya sarankan kegiatan ini. Pilih satu negara yang menurut anda maju. Lalu tanya mbah Google darimana negara ini mendapatkan kekayaannya (kemajuannya). Kemudian coba cek dari mana asal usul intellectual property yang jadi akar produk dari negara itu. Nah dari sini akan ketahuan korelasi kuat antara kegiatan riset sains and kemajuan negara tersebut.

Kuatnya riset sains di satu negara tapi tidak berarti setiap warna negara harus melek sains. Yang dibutuhkan bukan semua warga negara melek sains; cukup sebenarnya sebagian kecil saja yang melek sains dan mengerjakan R&D sains dengan militan. Yang bisa mengerjakan seperti ini adalah lembaga riset baik swasta maupun pemerintah. Kemudian lembaga riset ini butuh mempunyai sejarah puluhan tahun mengumpulkan orang-orang berkualitas dan mengerjakan riset tertentu dengan cermat dan konsisten.

Jadi yang terpenting adalah (i) kemampuan dan komitmen kuat untuk mengerjakan riset sains dan (ii) critical mass di bidang tersebut. Taksiran kasar saya dibutuhkan sekitar 20an orang di bidang tertentu untuk bisa mendorong bidang riset yang dipilih dan menghasilkan hasil penting.




Musim Gugur


Musim gugur di Calgary berjalan seiring dengan musim dingin. Salju telah mulai datang November dan mulai hilang sekitar April. Tidak berlebihan penduduk Calgary bilang musim dingin di Calgary lamanya 6 bulan.

Apa efek musim dingin 6 bulan? Pertama, dengan bertambahnya umur orang, dinginnya cuaca mempersulit kehidupan sehari-hari dari jalan dan trotoar licin sampai tuntutan kebugaran yang lebih berat. Kedua, buat orang yang lebih suka kegiatan-kegiatan musim panas, tentu berkurang waktu untuk aktivitas-aktivitas tersebut.

Dinginnya udara menambah latensi tubuh. 10 tahun lalu latensi tubuh saya adalah -20 derajat Celcius. Tapi akhir-akhir ini latensi tubuh menjadi -10 C. Toleransi terhadap udara dingin menurun dengan bertambahnya umur.

Friday, November 16, 2018

Jalan Sunyi


Sudah lebih dari setahun saya tidak bermain Facebook dan Twitter. Saya masih punya akun Instagram yang saya pakai untuk menyimpan foto2 yang bisa saya pakai untuk bernostalgia. Selama setahun ini kehidupan sehari-hari saya bisa lebih efisien. Tidak perlu lagi memikirkan komen2 teman dekat dan jauh yang tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tidak perlu lagi melototin foto2 selfie narsis teman2 yang menggambarkan kegembiraan mereka, padahal sudah jelas mempamerkan foto2 ini sebenarnya menggambarkan kesedihan mereka yang butuh pengakuan orang lain untuk eksis.

Bermain Facebook dan Twitter sering membuat saya iri dan marah. Iri karena melihat teman2 yang ketawa ketiwi sementara saya bekerja keras. Marah karena membaca komentar2 yang melukiskan cara berpikir sempit. Dua pikiran ini perlu disingkirkan karena menghambat kreativitas berpikir. 

Newsfeed Facebook dan Twitter yang terus ditayangkan 24/7–jika kita mau berpikir–bertentangan dengan prinsip orang belajar. Jika kita belajar kita perlu membaca dengan seksama dan setelah itu mencerna informasi untuk mengejar target ilmu berikutnya atau mengaplikasi apa yang sudah kita cerna. Sifat interaktif 24/7 Facebook dan Twitter yang mengalir tanpa henti tidak membolehkan kita berhenti sejenak untuk berpikir seksama. Otak kita akhirnya akan dengan mudah terbawa emosi karena dengan semakin banyak netizen yang nimbung dan berkomentar maka kita akan merasa dituntut untuk merespon dengan cepat. Inilah kejelekan Facebook dan Twitter: Kita menjadi tawanan kebodohan orang lain.

Jalan hidup terbaik buat saya adalah Jalan Sunyi. Jalan yang diisi belajar terus setiap hari, yang dituntun oleh naluri saya sendiri untuk mencari apa yang baru. Tanpa butuh diberitahu orang lain. Tanpa butuh keplokan tangan dan ikon jempol orang lain.