Friday, July 9, 2021

Pandito

Jiwaku meronta ingin merdeka. Walau rasa ini butuh waktu setahun untuk lahir ke permukaan. Aku tapi tidak bisa bohong, termasuk orang-orang yang aku kenal beberapa bulan terakhir ini.

Proses cerai yang aku alami akhirnya menuju ke rasa jiwaku sebenarnya. Bahwa aku berjiwa pandito - seseorang yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan berkelana, yang hidup memilih sendiri, yang ingin mengajarkan ilmu yang aku punyai hanya ke mereka yang siap belajar.

Jiwa pandito ini sudah lama tumbuh dan hidup sejak aku bersekolah SD di Surabaya. Aku tidak bisa ditundukkan oleh kepercayaan apa pun. Kesetiaanku hanya kepada mencari kebenaran yang aku dapat sendiri. Aku tidak bisa ditundukkan oleh ajaran tutur kata orang lain yang sebenarnya tidak mengalami sendiri ajaran itu.

Syarat-syarat hidup pandito berat. Aku harus hidup amat sederhana tanpa berlebih, mengurangi kesenangan-kesenangan sesaat, dan meluangkan waktuku hanya untuk belajar, menemukan sesuatu yang baru, dan untuk berkelana. Tidak ada yang permanen sekarang di hidupku. Semua yang mengelilingku aku biarkan bergerak. Semua yang mengelilingku aku tujukan untuk mengabdi ke ilmu dan kreasi. Proses ini sudah aku mulai di awal Juli 2021. Akhirnya aku harus berani hidup seperti yang aku impikan.


Saturday, February 13, 2021

Budaya Jawa

 


Sebagai orang Jawa saya malu memeluk budaya lain. Budaya Jawa -utamanya Jawa Tengah- amat ampuh dan luhur dengan kerendah hatian dan kelembutannya. Saya sudah berkunjung ke banyak negara dan berani bilang tidak lebih dari sepuluh budaya bangsa lain yang sederajat dengan budaya Jawa. Lingkupan budaya Jawa meliputi seni, bahasa, sastra, filsafat, arsitektur, bela diri, senjata, busana, makanan. politik, sejarah, sehingga budaya Jawa lengkap sebagai tuntunan hidup.

Budaya seni Jawa juga lengkap: percakapan, sastra, musik, tari, drama. Lengkapnya budaya seni Jawa direpresentasikan oleh pagelaran wayang kulit. Tidak ada pertunjukan seni di dunia yang sebanding dengan wayang kulit, baik dari lama waktunya sampai ragam seni yang ditontonkan. Wayang kulit bisa enam sampai delapan jam dan berisi gamelan, puisi, lagu, komedi, legenda. Kerap saya dihibur dan tersenyum trenyuh mendengar kelembutan tutur kata para dalang-dalang dan sinden yang mengingatkan saya akan tanah Jawa.

Filsafat Jawa mendahului agama-agama yang akhirnya menetap di tanah Jawa. Prinsip memayu hayuning bawana dan sangkan paraning dumadi mempunyai prinsip sepadan di agama-agama ini.Tidak heran orang Jawa asli tidak akan mudah tergiur mengikuti dengan buta ajaran agama-agama ini.

Orang Jawa asli tampak pendiam karena dia sudah kaya budaya. Dia tidak butuh kekayaan lain yang dia tahu tidak akan sepadan dengan apa yang sudah bersemayam di hatinya. Orang Jawa asli akan berbudaya tinggi. Rasa bangga akan asal usul ini penting untuk berjejak dan berjalan di muka bumi ini. Rasa jiwa ini tidak bisa ditiru oleh merasa benar sendiri karena keyakinan atau agama yang dipeluknya, karena rasa jiwa ini bersumber pada terpenuhinya dahaga. Jika saya merasa tidak haus lagi, cukup buat saya untuk tersenyum simpul dan diam.

Orang Jawa asli tidak akan melupakan sejarah luhur yang terukir abadi. Dari kerajaan Mataram Kuno di abad 8 kemudian kerajaan Singasari dan diteruskan oleh Majapahit sampai abad 15 yang menjaga perdamaian di bumi Nusantara dan Asia Tenggara. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan bendera Merah Putih adalah petilasan jaman keemasan Majapahit. Dibalik kerendahan hati dan kelembutan tutur kata tersimpan kekuatan tekad dan keberanian orang-orang Jawa yang merambah dunia.

Saya terkadang membayangkan apa tidak lebih baik orang-orang Jawa sebagai kesatuan etnik (budaya) berdiri sendiri sebagai negara. Sebagai upaya merengkuh kedaulatan budaya dan kedigdayaan bangsa Jawa di kancah dunia. Pikiran murni seorang keturunan Jawa yang peduli dengan kelestarian budaya Jawa dan nilai-nilai luhurnya.

Jika suku Jawa dianggap sebagai satu bangsa, maka bangsa Jawa adalah sedikit bangsa di negara Indonesia yang sangat peduli dan bergotong royong melestarikan budayanya sendiri. Bangsa lain di negara Indonesia yang mempunyai tekad dan hasil sama adalah bangsa Bali. Kedua bangsa ini, Jawa dan Bali, adalah dua yang setia akan sejarah dan nenek moyang mereka.

Wednesday, February 10, 2021

Cerai

 

Cerai bukan akhir. Ibarat sungai mengalir ke muara, setiap hubungan pernikahan akan berujung. Cerai mati atau cerai hidup berhakikat sama. Berpisah. Cerai mati bisa dilukiskan menggambarkan hubungan abadi. Cerai hidup juga bisa dilukiskan menggambarkan hubungan abadi karena setelah cerai kehidupan justru tetap berjalan. 

Cerai mati bisa dilukiskan menggambarkan hubungan tidak abadi. Tetapi kenangan akan tetap hidup. Cerai hidup bisa dilukiskan menggambarkan hubungan tidak abadi. Tetapi kehidupan malah tetap berjalan.

Jadi cerai adalah risiko dan kenyataan yang harus diterima saat kedua orang memutuskan menikah. Seperti mati setelah hidup. Tua setelah muda.

Cerai tidak pantas membuat orang sedih atau malah putus asa. Cerai tidak beda dengan kehilangan satu teman diantara milyaran orang di bumi. Cerai adalah ranting patah dari pohon yang tetap hidup dan berkembang.

Cerai malah membuka kesempatan baru buat dua orang yang memutuskan berpisah. Cerai membasuh sembuh luka lama yang tersimpan. Cerai adalah kuntum yang muncul di ujung ranting.

Setiap orang tua yang memutuskan cerai seharusnya bermental baja. Karena perilaku mereka menjadi contoh anak-anak mereka. Anak-anak ini lah yang menjadi hasil nyata pernikahan yang berujung perceraian.

Cerai bukan akhir. Seperti musim yang silih berganti, cerai adalah satu dari keempat musim: berkenalan, berhubungan, berpisah, mencari.

Yang perlu diawasi adalah masa pergantian musim. Saat prahara alam seperti banjir bisa terjadi. Pancangkan titik pandang sejauh mungkin agar kita tidak terpaku ke masa pergantian musim yang terkesan tidak menentu. 

Ada kesempatan dalam setiap ketidaktentuan. Jadilah pribadi yang kuat dan bersahaja. Berpikir tanpa berpamer. Mencari tanpa bersuara. Berkenalan tanpa terburu. Biarlah musim berganti seperti mestinya. Alam semesta adalah teman kita semua.

Akhir 2019


Sesampai di puncak Gunung Batur jam setengah enam pagi November 2019, kulihat puncak Gunung Rinjani di ufuk timur. Kuambil gitar dan kunyanyikan "Naik naik ke puncak gunung ...". Suara parauku tidak kupedulikan karena yang kuingat hanya rasa senang sudah sampai ke puncak di usia menjelang lima puluh.

Bersama sebelas mahasiswa engineering University of Calgary dan mahasiswa teknik mesin Universitas Udaya, kami bekerja bakti di desa Tenganan Dauh Tukad memasang pipa pompa air dan mesin pencacah plastik.

Kegiatan di tahun-tahun depan akan mengerucut ke mengajar aplikasi mekanik terutama di teknik mesin dan mendisain beberapa mesin yang dimulai awal 2019. Jalan masih jauh walau tidak lama lagi.

Kecintaanku ke budaya Jawa semakin mendalam. Wayang kulit, tayuban, campursari.