Saturday, October 12, 2019

Kampus


Melihat perkembangan di tanah air 2 bulan terakhir, setelah saya balik di Calgary dari tanah air, saya melihat begitu sukarnya usaha pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Partai politik yang semestinya mewakili rakyat lewat pemilihan umum hampir pasti sebagian besar memperjuangkan kepentingan mereka sendiri. Pemerintah yang disandera oleh kepentingan partai politik akhirnya berseberangan dengan mahasiswa yang oleh sebagian besar rakyat dianggap lebih murni mewakili suara rakyat.

Perkembangan ini cukup membuktikan buat saya bahwa pemerintah dan partai politik tidak akan bisa berbuat banyak memperbaiki kesejahteraan rakyat. Ketidakmampuan pemerintah dan partai politik ini sudah tidak asing diketahui oleh rakyat negara2 maju. Pemerintah dan partai politik itu keharusan sistem tata negara untuk mewakili kedaulatan negara dan melindungi rakyat satu negara dari serangan luar, sehingga sangat naif jika kita berharap banyak dari pemerintah dan partai politik.

Saya tidak melihat ada kesadaran diatas di tanah air, bahwa pemerintah dan partai politik sejatinya mandul atau paling maksimum hanya mempunyai peran pembantu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena yang hanya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat ya hanya rakyat sendiri.

Akan lebih naif lagi jika kita berharap pemerintah dan partai politik akan bisa mencerdaskan kehidupan bangsa. Ada empat institusi bangsa penting: pemerintah, partai politik, kampus, dan institusi budaya seperti agama (masjid, gereja) dan kesenian (industri kesenian). Dari keempat ini hanya kampus lah yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, berpikir tentang hal-hal berjangka panjang, dan berfungsi ganda di bidang ekonomi dan sosial sekaligus. Tapi kenapa justru di Indonesia fungsi kampus ini tidak dominan. Anggaran riset kampus sangat kecil. Gaji dosen perguruan tinggi negeri jauh lebih kecil dibandingkan anggota DPR dan manajer di BUMN.

Saya pesimis akan ada kemajuan berarti di bidang kecerdasan dan kesejahteraan rakyat. Kesemuanya karena anggaran negara tidak dipakai untuk mendidik tunas-tunas bangsa dengan baik untuk masa depan yang lebih baik. Sesederhana itu sebab ketidakmampuan tanah air untuk maju menapak ke masa depan dengan langkah kuat.