Sunday, February 10, 2013

Kebebasan Beragama


9. Dari 2 blog sebelumnya: Ongkos Beragama dan Paradoks Beragama bisa disimpulkan (i) tidak ada bukti empiris adanya surga neraka dan (ii) tidak ada agama yang bersifat universal karena agama adalah bagian budaya. Keputusan memeluk satu agama tertentu tidak berhubungan dengan kebenaran yang diklaim agama itu. Keputusan agama mana yang kita peluk ditentukan oleh pola pikir dan keuntungan yang ingin kita dapatkan, atau hanya karena orang tua beragama yang kita punyai sekarang.

Nenek moyang kita sudah mendirikan agama-agama pribumi. Karena raja dan sultan yang berkuasa waktu itu berpindah ke agama-agama yang diimpor dari tanah seberang, maka kita semua – rakyat biasa – ikut pindah berbondong-bondong ke agama-agama impor ini. Sesederhana itu proses kepemelukan agama yang kita punyai sekarang. Jadi jangan kita mudah percaya agama kita adalah yang paling benar. Agama yang kita peluk sekarang sebenarnya adalah pertanda kita bukan bangsa yang berkarakter kuat dan bangga dengan budaya kita sendiri.

10. Bangsa-bangsa yang memiliki jati diri mandiri tidak mudah menelan mentah-mentah agama-agama impor. India dan Saudi Arabia memiliki agama pribumi, demikian pula dengan Cina. Jerman, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Itali mengimpor agama-agama, tapi mereka tidak menerima mentah-mentah. Mereka dengan bebas memodifikasi agama-agama impor ini agar cocok dengan budaya mereka. Hanya dengan proses asimilasi proaktif seperti ini, agama-agama impor ini bisa ditaklukkan untuk tunduk kepada keinginan kita. Jika tidak, selamanya kita akan menjadi budak budaya; ini yang sekarang terjadi di tanah air.

Kita memilih disuapi konsep-konsep asing – surga neraka, pahala dosa, hari kiamat – daripada mencari dan mengolah agama-agama pribumi yang sudah kita miliki. Kita mau saja menerima klaim bahwa agama-agama pribumi kita terbelakang dan dengan sukarela memeluk agama-agama impor yang mengklaim mutakhir dan universal. Kita lupa bersikap kritis dan bertanya. Sampai sekarang kita masih membayar kealpaan intelektual pendahulu kita. Ongkos beragama yang kita pilih adalah amat sangat mahal.

11. Saya bedakan antara adanya surga neraka dan adanya Tuhan. Walaupun secara akal sehat tidak ada bukti empiris yang mendukung adanya surga neraka, masih perlu dikupas lagi apa tidak adanya surga neraka berarti juga tidak adanya Tuhan. Ini akan saya lakukan di blog berikutnya.

Yang cukup gamblang sekarang adalah makna kebebasan beragama. Karena agama adalah produk budaya, maka setiap orang berhak memilih agama yang dia maui atau tidak memilih agama apa pun. Kebebasan beragama atau tidak beragama harus didukung karena budaya kita akan berkembang.

Karena tidak ada agama yang universal, maka yang universal adalah proses pencarian spiritualitas untuk diri kita sendiri. Hasrat pencarian ini ada di tiap sanubari kita, tapi kita padamkan saat kita menelan mentah-mentah konsep-konsep agama yang dicekokkan dari sejak kecil.

Kenapa proses pencarian ini ada? Karena kita ingin menjadi orang baik. Kenapa ingin menjadi orang baik? Karena kita ingin dicintai orang-orang yang kita cintai. Kenapa kita ingin dicintai? Karena kita ingin hidup damai. Menjadi orang baik dan dicintai, dan menikmati hidup damai, itu tidak gampang. Makanya kita butuh inspirasi setiap hari. Kita butuh koneksi dengan alam semesta. Ini yang saya maksudkan dengan spiritualitas: kesadaran bahwa alam semesta bergerak bersama kita dan mengalami perubahan bermakna saat kita menjadi baik.

1 comment:

  1. Tingkat keberagamaan seseorang itu bukan diukur dr tingkat budaya seseorang. Tingkat keberagamaan seseorang itu diukur dari seberapa dalam dia mengenal Tuhannya. Kalo dia hanya mengenal agama sbg "kebiasaan" atau budaya, beragama atau tidak nggak ada bedanya. Silahkan cari tuhan, syaratnya temukan yg benar2 Tuhan. Bukan tuhan, maaf, abal2. Dapatkan Tuhan yg Dia memberi bukan karena Dia mengharapkan sesuatu dr kamu. Dia selalu memberi yg terbaik buat kamu, karena Dia maha bijaksana. Dia selalu dekat, sehingga kapanpun dan dimnapun kamu memerlukan, Dia selalu ada. Temukan Tuhan yg benar2 Tuhan, kenali Dia selangkah lebih dalam, dan temukan cara beragama yg sama sekaki tidak bergantung budaya...

    ReplyDelete