Tuesday, August 16, 2011

Tropis


Iklim tropis itu enak. Tidur di luar bisa; tidak butuh ongkos mahal untuk pemanas ruangan seperti di Canada. Rumah bisa didisain asri dan terbuka. Tidak ada angin dingin menusuk dan salju menimbun. Di kantor, saya mematikan alat pendingin ruangan (AC) karena udara hangat sebenarnya nikmat sangat. Kenapa harus didinginkan? Bahkan tidur pun saya sudah terbiasa tidak memakai AC.

Negara tropis seperti Indonesia lebih enak lagi. Punya banyak gunung berapi dan tanahnya subur minta ampun. Tinggal petik daun ketela dan sawi di kebun, dan goreng ikan asin, serta tomat dan lombok untuk sambal, jadilah makanan yang lezat. Kemudahan ini ada di hampir semua desa di Jawa dan Bali. Di Canada, kemudahan sumber makanan lokal ada di Quebec dan Ontario, tapi hilang sekitar musim dingin dari Oktober sampai April.

Keseharian di Indonesia - terutama di desa - bisa berjalan santai. Ini saya rasakan setiap kali berkunjung ke desa. Tapi begitu sampai di Jakarta, otak seperti berubah pikiran dan jiwa seperti dipacu untuk kerja, kerja, dan kerja. Mungkin melihat ribuan sepeda motor menyemut lalu lalang, ribuan deretan orang di pinggir jalan terlihat rapi di sela asap hitam mikrolet rongsokan, saya termotivasi untuk aktif seperti mereka. Energi kota besar - seperti Jakarta - memang luar biasa, mengingatkan saya akan energi kekal yang tampak di Toronto, Vancouver, dan New York.

Udara tropis ditambah dengan kesuburan tanah luar biasa membelai lembut orang Indonesia. Gaya hidup rileks sebenarnya bukan masalah asal kita semua tetap kreatif dan produktif. Kerja tidak perlu terburu-buru tapi kualitas kerja mestinya bisa sangat bagus. Udara tropis yang konstan mestinya mengajarkan kita untuk tekun dan tidak terburu-buru. 

No comments:

Post a Comment